
| Terakhir diperbarui: 16 September 2026 | Penulis: ratih | Ditinjau oleh: dr. Kenny Cahyani, M.Biomed |
Bekas luka biasanya akan perlahan memudar dan menjadi lebih rata seiring proses penyembuhan. Namun pada sebagian orang, proses pembentukan jaringan parut berlangsung secara berlebihan sehingga terbentuk keloid.
Keloid merupakan jaringan parut yang tumbuh berlebihan dan dapat melebar hingga melewati batas luka awal. Bentuknya bisa menonjol, terasa keras, dan pada beberapa orang disertai rasa gatal, nyeri, atau sensitif.
Keloid dapat muncul setelah berbagai jenis cedera kulit, misalnya luka operasi, jerawat, tindik, luka bakar, atau trauma lainnya.
Yang membuat keloid berbeda dari bekas luka biasa adalah kecenderungannya untuk terus berkembang atau bertahan dalam jangka panjang.
Karena itu, ketika keloid mulai mengganggu secara estetika maupun menimbulkan keluhan seperti gatal dan nyeri, dokter dapat mempertimbangkan beberapa pilihan terapi, salah satunya suntik keloid.
Suntik keloid atau intralesional corticosteroid injection adalah prosedur dengan memasukkan obat kortikosteroid langsung ke dalam jaringan keloid.
Salah satu kortikosteroid yang paling banyak digunakan dalam penelitian dan praktik klinis adalah triamcinolone acetonide (TAC). Tinjauan sistematis menunjukkan bahwa injeksi kortikosteroid intralesi merupakan salah satu terapi lini pertama untuk keloid.
Tujuan treatment bukan sekadar membuat bekas luka terlihat lebih kecil, tetapi membantu mengendalikan aktivitas jaringan parut yang berlebihan.
Pada keloid tertentu, terapi dapat membantu:
Namun, hasilnya tidak selalu sama pada setiap pasien. Ukuran, lokasi, usia keloid, karakter jaringan parut, serta respons tubuh terhadap terapi dapat memengaruhi hasil.
Keloid terbentuk akibat proses penyembuhan luka yang tidak terkendali, termasuk produksi dan penumpukan kolagen yang berlebihan.
Kortikosteroid yang diberikan langsung ke dalam jaringan keloid bekerja dengan menekan aktivitas inflamasi dan proses pembentukan jaringan parut yang berlebihan.
Dengan aktivitas tersebut, jaringan keloid secara bertahap dapat menjadi lebih lunak, tipis, dan rata.
Dalam berbagai penelitian, triamcinolone acetonide menjadi obat yang paling sering digunakan untuk injeksi intralesi pada keloid. Namun teknik, dosis, interval treatment, dan jumlah sesi harus ditentukan oleh dokter berdasarkan kondisi keloid masing-masing pasien.
Jadi, suntik keloid bukan treatment yang prinsipnya “semakin banyak obat, semakin cepat hilang”.
Justru ketepatan lokasi, dosis, interval, dan teknik penyuntikan menjadi bagian penting dari treatment.
Ini salah satu hal yang penting untuk dipahami sebelum menjalani treatment.
Suntik keloid dapat membantu mengurangi ukuran dan gejala keloid, tetapi tidak bisa menjamin keloid hilang sepenuhnya atau tidak akan muncul kembali.
Keloid sendiri dikenal memiliki kecenderungan untuk kambuh. Bahkan ketika tampilan keloid sudah membaik, dokter tetap dapat merekomendasikan pemantauan atau terapi lanjutan sesuai kondisi.
Tinjauan sistematis menunjukkan bahwa terapi keloid sering membutuhkan pendekatan bertahap atau kombinasi beberapa metode, terutama pada keloid yang sulit ditangani.
Karena itu, tujuan treatment sebaiknya bukan sekadar mengejar “hilang total”, tetapi mengendalikan pertumbuhan keloid, meratakan jaringan, dan mengurangi keluhan yang muncul.
Tidak ada satu jumlah sesi yang berlaku untuk semua orang. Keloid yang kecil dan relatif baru tentu berbeda dengan keloid yang sudah lama, tebal, dan luas. Dalam studi mengenai injeksi kortikosteroid, interval treatment yang digunakan sangat bervariasi, tetapi interval sekitar 4 minggu merupakan salah satu yang paling sering digunakan dalam penelitian. Dalam praktiknya, dokter akan mengevaluasi respons keloid setelah treatment sebelum menentukan apakah perlu dilakukan sesi berikutnya. Jadi, jangan menjadikan jumlah sesi orang lain sebagai patokan untuk kondisi kulitmu sendiri.
Rasa tidak nyaman saat penyuntikan bisa terjadi karena obat diberikan langsung ke dalam jaringan keloid.
Tingkat rasa sakit dapat berbeda tergantung:
Dokter dapat menggunakan pendekatan tertentu untuk membantu mengurangi rasa tidak nyaman selama prosedur.
Setelah treatment, area tersebut juga dapat mengalami rasa nyeri ringan atau sensitif untuk sementara waktu.
Suntik kortikosteroid merupakan terapi yang sudah lama digunakan untuk menangani keloid, tetapi seperti prosedur medis lainnya, tetap memiliki potensi efek samping.
Beberapa efek samping lokal yang dapat terjadi antara lain:
Tinjauan sistematis terhadap triamcinolone juga menemukan adanya risiko atrofi kulit dan telangiektasia, terutama pada konsentrasi tertentu.
Karena itu, treatment sebaiknya dilakukan oleh dokter yang dapat menentukan dosis dan teknik berdasarkan kondisi keloid, bukan dilakukan sembarangan.
Tidak semua bekas luka yang menonjol merupakan keloid. Ada kondisi lain yang disebut hypertrophic scar atau bekas luka hipertrofik. Keduanya sama-sama dapat terlihat menebal, tetapi terdapat perbedaan penting. Keloid cenderung tumbuh melewati batas luka awal. Sementara hypertrophic scar umumnya tetap berada dalam batas luka dan dapat menjadi lebih rata seiring waktu. Perbedaan ini penting karena pilihan terapi dapat berbeda. Itulah sebabnya diagnosis dokter diperlukan sebelum menentukan apakah suatu bekas luka memang membutuhkan suntik keloid.
Tidak selalu.
Penanganan keloid dapat melibatkan berbagai pilihan, tergantung ukuran, lokasi, usia, gejala, dan riwayat treatment sebelumnya.
Selain injeksi kortikosteroid, beberapa pendekatan yang digunakan dalam penanganan keloid antara lain:
Tinjauan sistematis menemukan bahwa silicone gel/sheet dan injeksi kortikosteroid termasuk pilihan terapi lini pertama, sedangkan terapi kombinasi dapat dipertimbangkan pada kasus tertentu.
Artinya, tidak ada satu treatment yang otomatis cocok untuk semua keloid.
Keloid merupakan kondisi yang cukup kompleks dan memiliki kecenderungan kambuh.
Pada keloid tertentu, dokter dapat mempertimbangkan kombinasi treatment untuk mendapatkan kontrol yang lebih baik.
Salah satu contoh yang banyak diteliti adalah kombinasi kortikosteroid dengan 5-fluorouracil (5-FU). Studi dan meta-analisis menunjukkan bahwa kombinasi tersebut dapat menjadi salah satu pilihan dalam penanganan keloid, meskipun pemilihan terapi tetap perlu disesuaikan dengan kondisi pasien.
Pada kasus lain, cryotherapy atau laser juga dapat dikombinasikan dengan injeksi kortikosteroid.
Karena itu, pendekatan terbaik bukan selalu mencari satu treatment yang “paling kuat”, tetapi menentukan strategi yang sesuai dengan karakter keloid.
Kamu bisa mempertimbangkan konsultasi dengan dokter jika bekas luka:
Semakin jelas karakter keloid diketahui, semakin mudah dokter menentukan pilihan treatment yang sesuai.
Kalau kamu memiliki keloid dan sedang mempertimbangkan treatment, jangan langsung menentukan sendiri jenis atau jumlah suntikan yang dibutuhkan.
Konsultasi dengan dokter menjadi langkah pertama yang penting.
Di Leny Skincare, kondisi keloid dapat dievaluasi terlebih dahulu untuk membantu menentukan pendekatan perawatan yang sesuai dengan kondisi kulit dan karakter bekas luka.
Dokter dapat mempertimbangkan ukuran, ketebalan, lokasi, serta riwayat keloid sebelum menentukan apakah injeksi kortikosteroid sesuai atau diperlukan pendekatan lainnya.
Dengan begitu, treatment tidak hanya berfokus pada mengurangi tampilan keloid, tetapi juga mempertimbangkan keamanan dan kemungkinan keloid kembali berkembang.
Suntik keloid merupakan salah satu pilihan terapi non-bedah yang telah banyak digunakan untuk membantu mengendalikan keloid. Injeksi kortikosteroid, terutama triamcinolone acetonide, termasuk terapi lini pertama yang didukung oleh literatur medis, meskipun respons setiap pasien dapat berbeda.
Treatment dapat membantu membuat keloid lebih rata dan mengurangi keluhan seperti gatal atau rasa tidak nyaman. Namun, keloid memiliki kecenderungan kambuh sehingga hasil treatment perlu dipantau dan pada kasus tertentu dapat membutuhkan kombinasi terapi.
Jadi, kalau kamu punya bekas luka yang menonjol dan curiga itu keloid, jangan buru-buru mengobatinya sendiri. Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter agar jenis bekas luka dan pilihan treatment bisa ditentukan berdasarkan kondisi kulitmu.
Catatan: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan diagnosis atau konsultasi langsung dengan dokter. Jenis obat, dosis, teknik penyuntikan, interval treatment, serta pilihan terapi ditentukan oleh dokter berdasarkan kondisi masing-masing pasien.