
| Terakhir diperbarui: 23 September 2026 | Penulis: ratih | Ditinjau oleh: dr. Kenny Cahyani, M.Biomed |
Menurunkan berat badan biasanya menjadi pencapaian yang membanggakan. Tubuh terasa lebih ringan, pakaian terasa lebih nyaman, dan bentuk tubuh pun terlihat lebih proporsional.
Namun, pada sebagian orang, ada perubahan lain yang justru cukup mengganggu: wajah terlihat lebih tua setelah berat badan turun.
Wajah bisa tampak lebih cekung, pipi terlihat lebih turun, garis wajah menjadi lebih tegas, atau kulit terlihat lebih kendur. Kondisi ini bukan berarti penurunan berat badan menyebabkan penuaan secara langsung.
Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya volume wajah akibat kehilangan lemak di area tertentu. Selain itu, elastisitas kulit juga dapat memengaruhi bagaimana wajah beradaptasi setelah mengalami perubahan berat badan.
Lalu, apa sebenarnya yang terjadi pada wajah setelah berat badan turun?
Ketika berat badan turun, tubuh kehilangan sebagian jaringan lemak. Tubuh tidak dapat menentukan secara spesifik dari mana lemak akan berkurang, sehingga lemak pada area wajah juga dapat ikut berkurang.
Padahal, lemak wajah memiliki peran penting dalam memberikan volume dan membantu membentuk kontur wajah.
Ketika volume tersebut berkurang, perubahan pada wajah dapat menjadi lebih terlihat, terutama pada orang yang mengalami penurunan berat badan cukup signifikan.
Beberapa perubahan yang mungkin muncul antara lain:
Karena itu, wajah yang terlihat lebih tua setelah berat badan turun tidak selalu disebabkan oleh proses penuaan kulit. Perubahan volume wajah juga dapat memberikan efek visual yang membuat wajah terlihat lebih mature atau lelah.
Salah satu faktor utama yang dapat membuat wajah terlihat lebih tua setelah diet atau penurunan berat badan adalah facial volume loss, yaitu berkurangnya volume jaringan pada wajah.
Volume wajah berperan dalam menciptakan bentuk dan proporsi wajah. Area seperti pipi, pelipis, dan bagian tengah wajah memiliki kontribusi terhadap tampilan wajah yang terlihat penuh dan segar.
Saat volume berkurang, area tersebut dapat terlihat lebih cekung.
Bayangan yang muncul pada area cekung juga dapat membuat wajah terlihat lebih lelah atau lebih tua, meskipun kondisi kulit sebenarnya belum mengalami perubahan yang terlalu signifikan.
Inilah mengapa seseorang bisa merasa, "Badan sudah lebih ideal, tapi kenapa wajah malah terlihat lebih tua?"
Jawabannya bisa berkaitan dengan perubahan distribusi volume wajah.
Selain kehilangan volume, kulit juga perlu beradaptasi dengan perubahan ukuran jaringan di bawahnya.
Jika berat badan turun cukup banyak, terutama dalam waktu relatif singkat, kulit mungkin membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Elastisitas kulit menjadi salah satu faktor yang menentukan seberapa baik kulit mengikuti perubahan volume tersebut.
Kulit dengan elastisitas yang lebih rendah dapat terlihat lebih longgar pada area tertentu, seperti pipi, garis rahang, dan leher.
Namun, penting untuk membedakan antara kehilangan volume wajah dan kulit kendur.
Keduanya merupakan kondisi yang berbeda.
Kehilangan volume berkaitan dengan berkurangnya jaringan yang memberikan fullness pada wajah. Sementara kulit kendur berkaitan dengan berkurangnya kekencangan atau elastisitas kulit.
Karena penyebabnya berbeda, pendekatan treatment untuk masing-masing kondisi juga dapat berbeda.
Salah satu treatment yang dapat dipertimbangkan untuk masalah kehilangan volume wajah adalah dermal filler.
Filler bekerja dengan memberikan tambahan volume pada area wajah tertentu. Karena mekanismenya tersebut, filler dapat digunakan untuk membantu mengembalikan volume pada area yang terlihat cekung atau kehilangan fullness.
Contohnya dapat mencakup area pipi atau bagian wajah tertentu yang membutuhkan penambahan volume.
Namun, penggunaan filler bukan berarti semakin banyak volume akan semakin baik.
Penempatan dan jumlah filler perlu disesuaikan dengan anatomi, proporsi, dan kebutuhan masing-masing wajah. Tujuannya bukan sekadar membuat wajah kembali penuh, tetapi membantu menciptakan tampilan yang tetap proporsional dan natural.
Berbeda dengan filler yang memberikan volume secara langsung, collagen biostimulator bekerja dengan merangsang proses pembentukan kolagen pada jaringan.
Treatment ini dirancang untuk memberikan stimulasi sehingga perubahan dapat berkembang secara bertahap melalui proses remodeling kolagen.
Karena mekanismenya berbeda, collagen biostimulator dapat dipertimbangkan ketika concern tidak hanya berkaitan dengan volume, tetapi juga kualitas kulit dan kekencangan jaringan.
Namun, collagen biostimulator dan filler bukan dua treatment yang dapat dianggap sama atau selalu saling menggantikan.
Pilihan treatment perlu disesuaikan dengan kondisi wajah dan tujuan yang ingin dicapai.
Secara sederhana, perbedaan keduanya dapat dilihat dari cara kerjanya.
| Treatment | Cara kerja utama | Umumnya dipertimbangkan untuk |
|---|---|---|
| Dermal filler | Menambahkan volume secara langsung pada area tertentu | Kehilangan volume atau area wajah yang terlihat cekung |
| Collagen biostimulator | Merangsang pembentukan dan remodeling kolagen | Kualitas kulit, kekencangan, dan stimulasi kolagen |
Meski begitu, tabel tersebut hanya memberikan gambaran umum.
Kondisi setiap wajah berbeda. Seseorang yang mengalami penurunan berat badan mungkin memiliki kombinasi beberapa kondisi sekaligus, misalnya kehilangan volume dan kulit yang mulai kendur.
Karena itu, dokter perlu melakukan evaluasi terlebih dahulu sebelum menentukan treatment yang sesuai.
Tidak selalu.
Pada beberapa kondisi, satu jenis treatment mungkin sudah cukup. Namun, pada kondisi lainnya, dokter dapat mempertimbangkan kombinasi beberapa pendekatan untuk menangani masalah yang berbeda.
Misalnya, kehilangan volume yang cukup jelas membutuhkan pendekatan restorasi volume, sementara kualitas dan kekencangan kulit dapat membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Yang terpenting adalah mengidentifikasi masalah utamanya terlebih dahulu, bukan memilih treatment hanya karena sedang populer.
Evaluasi oleh dokter dapat membantu menentukan apakah perubahan wajah setelah berat badan turun lebih banyak disebabkan oleh kehilangan volume, kulit kendur, atau kombinasi keduanya.
Menurunkan berat badan tidak berarti wajah pasti akan terlihat lebih tua.
Beberapa faktor dapat memengaruhi perubahan wajah setelah berat badan turun, termasuk jumlah dan kecepatan penurunan berat badan, distribusi lemak wajah, usia, kondisi kulit, elastisitas jaringan, serta faktor individual lainnya.
Karena itu, tidak ada satu solusi yang berlaku untuk semua orang.
Jika setelah berat badan turun kamu merasa wajah menjadi lebih cekung, terlihat lelah, atau kulit terasa lebih kendur, langkah pertama adalah memahami penyebabnya.
Treatment yang tepat seharusnya tidak hanya berfokus pada membuat wajah terlihat lebih penuh, tetapi juga mempertimbangkan proporsi, struktur, kualitas kulit, dan karakter wajah secara keseluruhan.
Wajah terlihat lebih tua setelah berat badan turun dapat terjadi karena beberapa perubahan, terutama berkurangnya volume wajah dan perubahan kekencangan kulit.
Kehilangan volume dapat membuat pipi, pelipis, atau area tertentu pada wajah terlihat lebih cekung. Sementara itu, perubahan elastisitas kulit dapat membuat wajah terlihat lebih kendur.
Filler dan collagen biostimulator memiliki mekanisme kerja yang berbeda. Filler berfokus pada penambahan volume pada area tertentu, sedangkan collagen biostimulator bekerja dengan merangsang proses pembentukan kolagen.
Karena kebutuhan setiap orang berbeda, pemilihan treatment sebaiknya dilakukan berdasarkan kondisi wajah dan hasil evaluasi dokter, bukan hanya berdasarkan tren atau rekomendasi umum.
Catatan: Artikel ini dibuat untuk tujuan edukasi dan informasi umum. Informasi di dalam artikel ini bukan pengganti konsultasi, pemeriksaan, diagnosis, atau rekomendasi medis dari dokter. Setiap kondisi wajah dan kebutuhan treatment dapat berbeda pada setiap individu. Konsultasikan kondisi dan tujuan perawatan kamu dengan dokter untuk mendapatkan rekomendasi yang sesuai.